Teater Wayang Litbang Kemendesa Pentaskan Ruwatan Anggota Keluarga Baru Puslitbang

PUSLITBANG

  Senin, 20 Nopember 2017

Dalam rangkaian workshop “Pembangunan Desa Menuju Kemandirian Desa yang Berkelanjutan” pada tanggal 1-3 November 2017, Teater Wayang Litbang Kemendesa menggelar pertunjukan seni tradisional. Teater ini dipimpin oleh Bapak Anhar Anharudin, Peneliti Utama Puslitbang Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dengan personel diantaranya Ratim (Kasubag TU), Murdiatun (Peneliti Madya), Saraswati (Peneliti Utama), Suparyo (Peneliti Utama), Arif (Peneliti Pertama), Chalin (Peneliti Pertama), Emma (Calon Peneliti), Elis (PPNPN), Sally (PPNPN), dan Andi (PPNPN).

 

Teater ini, menampilkan cerita tentang “BETHOROKOLO MENCARI BOPO, BETHOROKOLO MENCARI MONGSO”. Kisah ini diangkat dari dongeng kuno yang berada dimasyarakat Jawa. Ini adalah kisah mengenai “RUWATAN”, dalam Bahasa antropologi atau sosiologi di namai upacara “INISIASI”. Menurut keyakinan orang Jawa, dalam hidup ini banyak sekali keadaan atau peristiwa yang dapat mendatangkan malapetaka. Apabila orang tidak menghiraukan dan berikhtiar untuk menangkal petaka itu, orang itu akan hidup sial selamanya. Maka agar supaya orang terhindar dari bencana atau petaka yang setiap saat dapat terjadi, orang harus berikhtiar dengan memenuhi syarat-syarat spiritual. Syarat itu salah satunya adalah dengan cara DIRUWAT, orang itu perlu mengadakan UPACARA RUWAT untuk memproteksi diri dari apa yang disebut BETHOROKOLO. Dalam falsafah Jawa, orang yang potensial kena bencana atau orang yang hidupnya diancam dan dijadikan mangsa oleh BETHOROKOLO SI DEWA BENCANA, adalah orang yang disebut sebagai “NANDANG SUKERTO”. Kepercayaan tentang datangnya malapetaka atau NASIB SIAL yang akan menimpa orang yang “NANDANG SUKERTO” berasal dari kisah dalam wayang kulit, yaitu kisah tentang “PURWAKALA” kisah tentang asal-usul terjadinya bencana yang menimpa manusia. Maka, pethilan kisah ini, juga menggambarkan asal-usul lahirnya dewa raksasa bernana BETHOROKOLO DEWA PEMANGSA MANUSIA. Di Jawa, cerita ini sudah sangat umum. Meski banyak versi, tetapi substansinya sama, karena berasal dari sumber yang sama. Dalam cerita ini orang-orang yang diruwat oleh Ki Dhalang Ruwat Anhar Anharudin adalah anggota keluarga baru Puslitbang diantaranya Febrian Alyuswar (Kabid Desa), Syahroni (Kasubid Perencanaan dan Pelaporan Bidang Desa), Ni Putu Priyantini (Kasubid Perenvanan dan Pelaporan Bidang PDT), Peneliti dan Litkayasa BP2TPK Bengkulu (Darman Hary, Hotlin, Emar, dan Adi Nasution).

 

Teater Wayang Litbang ini menunjukan bahwa Puslitbang sangat menghargai keragaman budaya. Pementasan yang digelar selama satu setengah jam di Gedung Batoer Gunung Kidul ini dikemas apik dengan selipan candaan yang sukses menyita perhatian dan Gelak tawa penonton dari dimulainya pementasan sampai selesai.