Situs Bersejarah Sebagai Salah Satu Potensi Desa Wisata di Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang..

JAKARTA

  Rabu, 28 Februari 2018

OLEH : DIAN MENTARI ALAM (PSM MUDA BBPLM)

Di Kecamatan Cadasari terdapat Desa yang saling berdekatan, memiliki potensi wisata dan sering menjadi tempat ziarah, yaitu Desa Pasir Peuteuy, Desa Kurungdahu dan Desa Kaduengang. Desa Pasir Peuteuy memiliki situs bersejarah yang juga dikeramatkan oleh warga sekitar yaitu Situs Menhir Pahoman, terletak di atas sebidang tanah milik Departemen Kehutanan. Menhir merupakan batu-batuan bersejarah berupa batu tunggal, berukuran besar, menyerupai tugu yang berdiri tegak  sebagai situs pra sejarah yang sudah dikenal dari periode Neolithikum (6000 SM). Menhir tertinggi berukuran kurang lebih 150 cm. 4 buah menhir lainnya rata-rata berukuran kurang lebih 75 cm. Hingga saat ini Menhir Pasir Peuteuy masih menjadi objek tujuan wisata ziarah. Jarak tempuh sekitar 30 km dari kota Serang ke arah Selatan atau 12 km dari kota Pandeglang.

 Situs Pahoman termasuk menhir sebagai peninggalan para karuhun (leluhur) zaman megalitikum yang dilindungi oleh Undang-Undang  RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya yang terletak di Desa Pasir Peuteuy, Kecamata Cadasari. Larangan merusak, mencuri, atau memindahkan dikenakan pidana penjara dan denda yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten  yang memiliki wilayah kerja Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta dan Lampung. Sebelum menjadi cagar budaya yang dilindungi, situ ini dianggap mistis yang dijaga oleh masyarakat. Di  zaman itu, menhir sebagai sarana penghormatan pada arwah nenek moyang, memiliki nama  yaitu:

1)       Mbah Dalem Pamoyangan

2)       Raden Hijrah Kawasa

3)       Raden Karamaian

4)       Raden Suling

5)       Raden Panayangan

6)       Raden Masuluk

7)       Nyirincikmani Rencang Omas

 

Gambar 1. Situ Pahoman

Gambar 1. Situ Pahoman

Penjelasan tetua penjaga situ atau kuncen bahwa menurut kepercayaan sebagai patilasan yang dianggap kramat. Para penziarah dari berbagai daerah berkunjung ke lokasi ini untuk berbagai tujuan seperti melancarkan usaha, karir dan jodohnya. Pengunjung yang berniat baik diuji dengan melingkarkan tangan ke belakang dengan posisi membelakangi batu tersebut. Tentunya hal ini kembali kepada keyakinan karena sangat tipis dengan hal-hal berbau syirik. Memasuki lokasi Pahoman telah dilengkapi jalan setapak berbatu yang sudah ditata rapi dan lahan parkir sebelum memasuki area. Di area ini dikelilingi pohon-pohon besar berusia tua, dilengkapi bangunan semacam mushola dan berpagar. Perawatan pohon tua perlu direhabilitasi untuk menghindari tumbang seperti saat memasuki lokasi, terdapat beberapa pohon tumbang sehingga dialihkan jalan masuk.

Gambar 2. Kolam Pemandian

Gambar 2. Kolam Pemandian

Di lokasi ini terdapat mata air yang menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat seperti mandi, minum dan mengairi lahan pertanian. Tempat pemandian dibangun sekat tembok diantara sumur. Setiap rumah warga mendapatkan aliran air menggunakan pipa-pipa, tetapi debit air berkurang di bulan Maulud karena banyaknya pengunjung dari sekitar dan luar Jawa yang menggunakan untuk mandi. Rutinitas mandi bagi para pengunjung dianggap kegiatan mensucikan diri dan diiringi berdoa untuk keinginan terkait kepercayaan masing-masing.

Menhir lainnya yang ditemukan dan dilindungi di Desa Pasir Peuteuy adalah Sanghyang Bunut dilakukan renovasi pada tahun 2015 yang pengelolaannya di bawah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Pandeglang. Menhir ini letaknya di pinggir jalan raya, tidak sejauh situs Pahoman. 

Gambar 3. Cagar Budaya Sanghyang Bunut

Gambar 3. Cagar Budaya Sanghyang Bunut

Desa lain yang letaknya lebih rendah dari Desa Pasir Peuteuy adalah Desa Kurungdahu memiliki potensi wisata religi yaitu pemakaman Syekh Khodirun, dan Syekh Pamayungan Cukanggintung  yang berada di lokasi Kampung Kadupicung, dan makam Tilu Kadulayung di Kadulayung. Lokasi makam Syekh Khodirun terletak di sekitar kebun yang jalan memasukinya sudah di konblok tetapi kurang terawat. Kondisi makam Pmayungan Cukiguntung juga kurang terawat seingga kedatangan pengunjung tidak seramai di lokasi lain.

Gambar 4. Makam Syekh Khodirun dan Pamayungan Cukagintung

Gambar 4. Makam Syekh Khodirun dan Pamayungan Cukagintung

Makam Tilu Kadulayang di dalam hutan yang jalan memasukinya masih alami melewati semak. Kondisinya tidak beda jauh dengan makam sebelumnya, bangunan kotor dan tidak terawat. Ke depan, pemugaran dan perawatan perlu dilakukan apabila akan dijadikan salh satu destinasi ziarah.

Gambar 5. Makam Tilu Kadulayang

Gambar 5. Makam Tilu Kadulayang

Desa lain yang posisinya lebih tinggi dari Desa Pasir Peuteuy, termasuk dataran tinggi ( 1770 mdpl), berada di sebelah Utara kota Pandeglang dan Kecamatan Cadasari dengan luas wilayah sekitar 314,22 Ha. Desa ini berbatasan dengan desa lain diantaranya :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Cemplang, Kab. Serang
  2. Sebelah Timur Berbatasan dengan Desa Kadu Ela
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Pasir Peuteuy
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kehutanan Gunung Karang

Kadu Engang memiliki perbukitan yang subur, tumbuhan hijau beraneka ragam tumbuh di atas tanah yang tinggi dan memiliki hutan yang masih lebat, tepatnya di hutan Gunung Karang. Desa ini ditinggali sekelompok masyarakat hidup rukun dan damai walaupun sederhana, masyarakat menyebutnya saat ini dengan nama Desa Kadu Engang. Desa Kadu Engang sebagai salah satu destinasi wisata potensial dengan taman alam ziarahnya, pendakian serta pesona keindahan alamnya menjadikan Gunung Karang sebagai daerah wisata alam. Di Desa Kadu Engang ini terdapat objek wisata Sumur Tujuh dan wisata ziarah (wisata religi), wisata alam yang sampai saat ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal dan pernah juga oleh wisatawan asing.

Objek wisata Sumur Tujuh ini merupakan tempat wisata religi yang sangat terkenal di Desa Kadu Engang ini, di lokasi ini terdapat tujuh mata air yang konon kabarnya menurut cerita rakyat Banten di sumur tujuh ini dahulu kala merupakan tempat duduk dan berisitirahat para panglima dan juga para tokoh Banten di zamannya. Berdasarkan sejarah tersebut, maka masyarakat Banten khususnya warga desa Kadu Engang menjadikan tempat ini sebagai lokasi keramat. Para peziarah yang berdatangan ke lokasi ini banyak juga dari luar kota Pandeglang. Pengunjung akan semakin ramai lagi ketika bertepatan dengan bulan Maulud.  Sumur tujuh menurut masyarakat menjadi sumber air yang tidak pernah kering dan terdapat kepercayaan mistis dari kondisinya. Lokasi Kaduengang yang berada di ketinggian didukung potensi pemandangan yang asri dapat menjadi sentra wisata didukung keberadaan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) untuk mengembangkan track satu arah. Pengelolaan potensi wisata dengan sistem satu jalur diharapkan dapat meningkatkan pendapatan desa dan dikelola di bawah Bumdes.

Gambar  6. Sumur Tujuh

Gambar  6. Sumur Tujuh

Kebiasaan perayaan pernikahan dengan melakukan pengarakan keliling Desa Kaduengang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan. Pengarakan dilakukan seperti pawai keliling menggunakan obor oleh seluruh warga desa.

Gambar 7. Pengarakan Pengantin